Jumat, 17 Mei 2013

Existensi Adat dan Budaya Amma Towa Kajang



Oleh : Mursal

Touring kedua The Phinisi center - TPC mengadakan kunjungan ke kawasan adat Amma Towa  Rabu, 4/4/2013. Etnis Amma Toa berada di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Letaknya kurang lebih 40 km sebelah timur Kota Bulukumba. Keunikan budayanya sudah terdengar hingga ke seluruh penjuru dunia. Keunikan ini pula yang membuat Kajang tiap tahunnya dibanjiri wisatawan mancanegara.

 Adat dan budaya yang belum tersentuh oleh pengaruh globalisasi menjadikan etnis Amma Towa tetap eksist dalam mempertahankan adat dan budaya tradisional serta memiliki keunikan yang tidak lazim. Keunikan itulah membuat teman-teman TPC memiliki semangat yang tinggi mengunjunginyadan TPC tiba di lokasi kawasan Amma Towa sekira pukul 14.30. setiba di depan kediaman Amma Towa kami dari TPC disambut dengan tutur kata yang lembut oleh istri Amma Towa dengan menggunakan bahasa daerah (Kajang) dengan mimik bahasa  ibu kepada anaknya dengan maksud mempersilahkan kami segera menuju ruang tamu menunggu Amma Towa. Dari hasil wawancara dengan Amma Toa kami dapat menyimpulkan bahwa s uku Ammatoa di Kajang memang menyimpan begitu banyak cerita bagi setiap pengunjungnya. keberadaannya yang cukup jauh dari kota membuat masyarakatnya masih menganut sistem tradisional baik dari segi ritual keagamaan ataupun sosial kehidupannya.
Orang Amma towa betul-betul memegang teguh pedomannya yang disebut Pasang ri Kajang. Yakni, penduduk Tana Toa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan. Orang Ammatoa juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, dan tawakal. Pasang ri Kajang juga mengajak untuk taat pada aturan, dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya.
Masyarakat adat Amma towa yang tinggal dalam kawasan adat wajib menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi. Masyarakat yang ingin menjalankan kehidupan dengan gaya modern maka dipersilahkan untuk meninggalkan kawasan adat. Adapun penduduk yang harus menjauh atua tidak diperbolehkan untuk modern yakni Dusun Sobbu,Bungkengan, Pangi, Lurang, Balang Bina, Tombolo dan Benteng.
Suku Kajang yang berada dalam kawasan adat  lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk Kajang yang tinggal di luar batas kawasan  perkampungan adat. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi dengan tujuan agar rumah mereka tetap menghadap Ka’bah, khususnya yang berada di dalam kawasan adat terutama Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter.
Salah satu model rumah yang berada dalam kawasan adat Ammatoa modelnya tampak pada gambar diatas, kehidupan yang begitu sederhana, jika masuk ke dalam rumah hal yang pertama dilihat adalah dapur, rumah model ini tidak memiliki teras atau beranda dan di dalamya tidak memiliki kamar tidur dan semua tiang rumah harus ditanam ke dalam tanah. Rumah Adat Suku Kajang bila kita melihat secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masayarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya atau lebih banyak di sebut rumah panggung.
Masyarakat Kajang memiliki bahasa khas yakni bahasa  Konjo (Kajang) yang kental merupakan bahasa suku yang selama ini sebagai media komunikasi antar sesama masyarakat suku Kajang dan juga bahasa yang digunakan Amma Towa dalam berkomunikasi dengan tamu sehingga tamu berkunjung ke kawasan adat Amma Towa  dan tidak dapat menggunakan atau mengerti harap membawa serta juru bicara demi kelancaran komunikasi antara Amma dengan pengunjung.
Warna pakaian masyarakat Kajang hanya diperbolehkan menggunakan warna hitam dan putih.Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila kita memasuki kawasan ammatoa pakaian kita harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Amma towa sebagai  bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan dan yang terpenting sebagai bahwa warna hitam adalah aasal muasal kehidupan.Hitam dan putih bagi mereka adalah sumber warna .Amma Towa menggunakan warna dalam berpakaian yakni celana warna putih sedangkan baju warna hitam. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir. Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh Laki-Laki, penutup kepala disebut Passapu dan sarung yang biasa juga disebut Tope Lelleng (sarung hitam) sedangkan Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh kaum perempuan yang smuanya juga berwarna hitam.

Masyarakat Kajang masih senangtiasa menjaga dan berusaha bijak dalam menyikapi keadaan dan kelestarian lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang ada dalam kawasan adat yang tetap dijaga keasliannnya  oleh masyarakat sebagai sumber kehidupan bahkan kawasan adat Amma Towa masih memiliki dan menjaga kelestarian  hutan lindung seluas 331, 17 Hektar. luar biasa.

Sebelum pamit meninggalkan rumah adat, Amma Towa sempat memberikan petua dalam bahasa Kajang  kepada team TPC  yakni pertama Buakkan Mata (menjaga mata) kedua Angundang Cakkania (memelihara hati) ketiga Appassulu Sa’ra (mengjaga  Suara) keempat Appalampa Lima na Bangkeng (menjaga tangan dan kaki)  dari semua pesan yang disampaikan Amma towa kepada mengisarat bahwa sebagai manusia kita harus senangtiasa menjaga anggota tubuh terutama yang dapat mendatangkan mudarat bagi diri pribadi,  orang  dan lingkungan
Begitu banyak Kebudayaan yang dimiliki oleh Masyarakat Bugis Makassar, sudah sepantasnya lah kita melestarikan kebudayaan tersebut. Suku Kajang salah satu dari sekian banyaknya budaya nusantara yang masih kental akan adat istiadatnya.
Mari  menjaga, memelihara dan mempertahankan adat dan budaya kita !!!

***


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah menitipkan komentar
semoga informasi ini bermanfaat
Wassalam